Tohari dan Lebaran Sunyi: Video Call dari Stasiun

Daftar Isi




Cerita Tohari, 26 Tahun Lebaran di Stasiun, Video Call Jadi Penawar Rindu dengan Keluarga

Senja menyapa Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada tanggal 22 April 2024. Di tengah hiruk pikuk para penumpang yang berlalu lalang, Tohari, seorang pria berusia 45 tahun, duduk termenung di bangku tunggu. Ini adalah Lebaran ke-26 yang ia lalui di perantauan, jauh dari keluarga tercinta di kampung halamannya, Banyuwangi, Jawa Timur. Wajahnya yang sedikit kusam tak mampu menyembunyikan setitik kesedihan yang terpatri di matanya.

Pulang Kampung, Mimpi yang Tertunda

Tohari bukanlah seorang yang antipati pada suasana Lebaran. Justru sebaliknya, ia sangat merindukan keakraban keluarga, aroma opor ayam yang menggugah selera, dan lantunan takbir yang menggema di seantero kampung. Namun, realitas hidup memaksanya untuk merayakan Idul Fitri jauh dari sanak saudara. Sejak usia 19 tahun, Tohari merantau ke Jakarta untuk mengejar cita-citanya. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman.

Kehidupan di perantauan tidaklah mudah. Tohari harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Gaji yang ia terima pas-pasan hanya cukup untuk menyewa kamar kost kecil dan memenuhi kebutuhan pokoknya. Mimpi untuk pulang kampung dan merayakan Lebaran bersama keluarga seringkali terganjal oleh keterbatasan finansial.

Tahun demi tahun berlalu, Lebaran selalu dirayakan di stasiun atau tempat-tempat umum lainnya. Kenangan tentang Lebaran di kampung halaman tetap membekas di benaknya. Ingatan akan kerumunan sanak saudara, gelak tawa anak-anak, dan hidangan lezat khas Lebaran membuatnya semakin merindu.

Video Call, Jembatan Penghubung Rindu

Teknologi kini menjadi penawar rindu Tohari. Di sela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri untuk melakukan video call dengan keluarga di Banyuwangi. Layar ponselnya menampilkan wajah-wajah ceria istri dan kedua anaknya. Walaupun tak bisa merasakan sentuhan fisik, video call mampu menghadirkan rasa hangat dan kebersamaan.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada video call. Rasanya lebih dekat walaupun jauh. Bisa melihat wajah anak dan istri, mendengar suara mereka, itu sudah cukup melegakan hati,” kata Tohari sambil tersenyum, meskipun senyumnya sedikit terlihat getir. Ia menceritakan bagaimana ia dan keluarganya saling bertukar ucapan selamat Lebaran melalui video call, melihat cucunya, dan berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.

Tahun ini, Tohari berhasil mengumpulkan sedikit uang lebih dari biasanya. Ia berencana untuk mengirim sebagian uangnya kepada keluarga di Banyuwangi untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka di Lebaran. Meskipun tak bisa pulang, ia berharap sedikit bantuannya bisa sedikit meringankan beban keluarganya.

Harapan di Hari Raya

Di tengah kesunyian Stasiun Gambir, Tohari merenungkan perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa pengorbanannya selama ini tidak sia-sia. Ia berhasil membiayai pendidikan kedua anaknya hingga lulus sekolah menengah atas. Anak pertamanya kini sudah bekerja dan membantu perekonomian keluarga di kampung halaman. Anak keduanya sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Tohari berharap suatu hari nanti, ia bisa pulang kampung dan merayakan Lebaran bersama keluarga di Banyuwangi. Ia ingin merasakan kembali kebersamaan yang sesungguhnya, tanpa terhalang jarak dan keterbatasan finansial. Ia berdoa agar mimpinya itu bisa terwujud di tahun-tahun mendatang.

Kisah Tohari ini menggambarkan realita banyak perantau yang harus merayakan Lebaran jauh dari keluarga. Mereka meninggalkan kampung halaman demi mengejar kehidupan yang lebih baik, namun harus rela merayakan hari kemenangan di perantauan. Namun, semangat dan harapan mereka untuk berkumpul kembali dengan keluarga tetap menyala, menjadi penyemangat dalam menjalani hidup di perantauan.

Lebih dari sekadar Lebaran di Stasiun

Lebaran di Stasiun Gambir bukan hanya sekedar momen kesendirian bagi Tohari. Ia melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk merefleksikan perjalanan hidupnya, mengucapkan syukur atas segala nikmat yang telah diterimanya, dan merencanakan langkah-langkah ke depan. Ia menyadari bahwa kehidupan di perantauan telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh, ulet, dan penuh harapan.

Di antara keriuhan stasiun, Tohari menemukan kedamaian batin. Ia menyadari bahwa kebersamaan tak selalu diukur dari jarak fisik. Video call dengan keluarga, doa-doa yang dipanjatkan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik menjadi penguat dalam menjalani Lebaran di perantauan.

Cerita Tohari memberikan pesan yang mendalam tentang arti keluarga, pengorbanan, dan harapan. Meskipun jauh dari keluarga, kasih sayang dan ikatan keluarga tetap menjadi sumber kekuatan bagi Tohari untuk terus berjuang dan meraih cita-citanya. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk senantiasa mensyukuri nikmat kebersamaan dan selalu menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.

Semoga tahun depan, Tohari dapat merayakan Lebaran bersama keluarganya di Banyuwangi. Amin.

Exit mobile version